
Di sebuah dusun kecil bernama Kereak, Desa Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, lahirlah seorang anak yang kelak akan mengukir sejarah bagi kampung halamannya. Ia tumbuh dalam kesederhanaan, di sebuah gubuk kecil yang jauh dari kata mewah, namun penuh dengan nilai kehidupan dan keteguhan hati.
Ia adalah putra dari seorang ibu petani sederhana dan almarhum ayahnya, H. Sakiran, yang sehari-hari bekerja sebagai penggembala kerbau milik tetangga—atau dalam bahasa Sasak dikenal dengan istilah “karbau bekadas.” Kehidupan yang dijalani jauh dari kemudahan, namun justru dari sanalah semangat juang itu tumbuh.
Pendidikan dasarnya ditempuh di Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Kereak, Desa Pandan Indah. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketekunan dan semangat belajar yang tinggi. Perjalanan menuju pendidikan bukanlah hal yang mudah. Saat melanjutkan ke jenjang SMP di Desa Kabul, ia harus berjalan kaki setiap hari dari rumahnya di Kereak menuju sekolah yang jaraknya cukup jauh. Namun jarak tidak pernah menjadi alasan untuk menyerah.
Perjalanan ilmunya berlanjut hingga ke Pulau Jawa. Dengan tekad yang kuat dan keberanian meninggalkan kampung halaman, ia melanjutkan pendidikan SMA hingga Sarjana (S1) di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Di tanah rantau, ia belajar tidak hanya ilmu, tetapi juga arti kemandirian, kesabaran, dan pengorbanan.
Langkahnya tidak berhenti di sana. Ia melanjutkan pendidikan S2 di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, di bawah asuhan Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, dengan mengambil bidang Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Perjalanan ini semakin berat, namun ia tidak berjalan sendiri. Dukungan keluarga, terutama sang istri yang dengan penuh pengorbanan membantu ekonomi keluarga—berjualan, membuka toko buku, usaha laundry, hingga berbagai usaha kecil lainnya—menjadi energi besar dalam perjuangannya.
Di tengah perjuangan itu, ia juga mengabdikan diri sebagai guru di MBI Pacet, membagi ilmu sekaligus terus menata langkah menuju cita-cita yang lebih tinggi. Dengan tekad yang tidak pernah padam, ia akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikan doktoral (S3) di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU), salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam negeri terkemuka di Jawa Timur.
Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil meraih gelar doktor—menjadi satu-satunya putra daerah dari Dusun Kereak yang mencapai gelar tertinggi dalam dunia akademik. Sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan keluarga, tetapi juga menjadi inspirasi besar bagi pemuda desa Pandan Indah dan masyarakat sekitarnya.
Kisah ini bukan sekadar tentang gelar, tetapi tentang ketekunan, pengorbanan, dan keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih impian.


Leave a Reply